Ari purwanto Peneliti Fauna KALTENG

Agar Ekosistem alam terus terjaga di Bumi Tambun Bungai, Ari purwanto (44) pilih profesi peneliti fauna di Pusat kerja sama Internasional dalam tata kelolah berkelanjutan lahan gambut tropis yang sering disebut CIMTROP, Universitas Palangka Raya. Warga Kalteng khususnya Kota Palangka Raya berbangga hati, Ari warga pribumi siap menghabiskan waktu meneliti Fauna di Kalteng.

Dilahan hutan gambut seluas 50 ribu hektar tersebut. Pria berkulit sawo mateng ini mengaku telah berja di CIMTROP sejak tahun 1997. Namun, saat itu ia belum terikat kontrak kerja, karena lebih memilih bekerja sebagai pekerja harian yang tidak terikat dengan CIMTROP.

“Baru empat tahun belakang, saya baru melakukan kontrak tenaga kerja sebagai peneliti fauna di Laboratorium Alam Hutan Gambut (LAHG), CIMTROP,” kata Ari purwanto kepada peserta Lokakarya Wartawan Meliput Perubahan Iklim(MPI) Kalimantan Tengah(Kalteng) asal Provinsi Bangka Belitung, Roni pada Minggu(21/02/2016) di LAHG.

Ia mengungkapkan profesi peneliti fauna ini dipilih, lantaran setiap tahunnya habitat fauna di Kalteng terus berkurang. Tidak lain penyebabnya yakni kebakaran hutan dan lahan gambut setiap musim kemarau.

“Sangat disayangkan, setelah kami lakukan investigasi kelapangan bersama pihak terkait. Ternyata, kebakaran terjadi karena ulah manusia yang ingin mengusai lahan, sebagian mereka untuk bercocok tanam dan juga kepentingan perusahaan kelapa sawit,”jelas Ari.

Salah satu siklus perkembangbiakan fauna terganggu saat terjadinya kebakaran, yakni kupu-kupu. Di LAHG sendiri tidak ada satupun kupu-kupu yang berterbangan saat terjadinya kebakaran, mereka terindikasi mati.

“Paska kebakaran Hutan di Kalteng, kupu-kupu kembali bermunculan seperti sekarang.”pria beranak dua tersebut sembari tersenyum.

Ia menceritakan hal menarik paska terjadinya kebakaran, dari warna fisik kupu-kupu yang bermunculan sekarang rata-rata burem atau gelap di sertai bintik-bintik kotor.

“Saat ini sedang saya teliti penyebabnya apa, entah apakah pengaruh dari kabut asap atau memang faktor genetika dari induk kupu-kupu itu sendiri,”ceritanya.

Sementara, Untuk jumlah spesies kupu-kupu di LAHG ini sendiri lebih dari 50. Angka itu sendiri di yakini terus bertambah, karena paska terbakar banyak bermuncul kupu-kupu dengan warna berbeda dari biasanya tersebut.

“Kupu-kupu yang sering kita jumpai disini antara lain jenis troides andromache, pachliopta aristolochiae, papilio nephelus dan papilio memnon,”kata Ari.

Sebelum melakukan penelitian kupu-kupu, Ari sempat meneliti pertumbuhan kura-kura dan tupai. Ia beralih ke kupu-kupu, alasannya karena habitat kupu-kupu secara ekologi sangat penting terhadap ekosistem alam di pulau Kalimantan.

“Secara alamiah usai mengambil sari bunga tumbuhan, kupu-kupu akan menebarkan serbuk bunga yang ia ambil sarinya tersebut ke tanaman lain. Sebaran serbuk itu sendiri akan berpengaruh terhadap regenarasi tumbuhan di sekitaran hutan, ekosistem alam secara alamiah terus lestari di Hutan Kalteng”ulasnya.

Disamping itu, kupu-kupu sangat peka akan perubahan lingkunan baik kondisi vegetasi maupun tingkat pencemarannya. Karena Keragaman jenis kupu-kupu yang tinggi hanya dapat kita jumpai pada lingkungan yang asri.

“Keberadaan kupu-kupu juga kami jadikan indikator kesehatan lingkungan setempat,”katanya seraya mengatakan lama hidup kupu-kupu hanya 3 bulan setelah melalalui masa telur hingga kepompong.

Kupu-kupu yang bermunculan pada pagi hari sekitar pukul 09.00 wib hingga pukul 14.00 wib. Kata ari, memiliki daya tarik tersendiri, terutama aktifitas kupu-kupu bermain antara satu dengan yang lainnya.

“Jika pemerintah jelih, kebaradaan kupu-kupu bisa mendorong program ekowisata pemerintah setempat,”ungkapnya.

Dengan optimisnya, ia berjanji akan terus melakukan penelitian kupu-kupu endemik pulau kalimantan. kupu-kupu khas kalimantan, seperti kupu-kupu sayap burung. Ia akan terus mencari formulasi-formulasi ilmiah agar habitat kupu-kupu di pulau kalimantan terus terjaga keasriannya. Salah satu formulasi ampuh yang didapati, menanam pohon yang sumber makanan kupu-kupu dengan jumlah banyak di hutan.

“Selagi sehat, saya akan terus melakukan penelitian hingga hasilnya bermanfaat bagi keasrian alam dan roda kehidupan mahluk hidup di Bumi”ungkapnya.

Mengenai resiko profesi. Menurut ari, semua profesi tetap ada resikonya. Bagi mereka, resiko yang sering ditemui, yakni berhadapan dengan hewan buas seperti beruang, harimau, ular hingga buaya. Saat melakukan penelitian ke hutan. Ia pernah di gigit ular, tersengat lebah hingga luka terkena tebasan parang saat membuka jalan menuju lokasi.

“Meskipun upah yang diperoleh lebih dari Rp.4 juta di anggap masih tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan transportasi saat bekerja, namun hati saya tetap semangat menjaga kelestarian lingkungan hidup,”ulasnya.

“Sayapun telah menyerahkan setengah hidup ini untuk menjaga keberlangsungan ekosistem alam Kalteng melalui kegiatan penelitian”tambahnya.

Saat melakukan penelitian, Ari bisa menginap di hutan hingga 1 minggu lamanya, jarak dari camp pusat LAHG mencapai 20 Km dengan kondisi jalan berair disertai lumpur dan semak belukar.

“Kalau mau mendapatkan data yang lebih detail terhadap objek yang sedang kita teliti, ya harus menginap di lokasi sekitar objek penelitian”kata Ari.

Kembali kepada kisah keseharian lingkungan keluarga di luar LAHG. Ternyata Ari sangat menyayangi kedua anaknya. Setiap hari ia harus pulang pergi dari rumah yang ke LAHG, dengan waktu jarak tempuh hinggga 30 menit.

“Saya kerja dari pukul 06.30 wib hingga pukul 15.00 wib. Sisa waktunya, saya manfaatkan untuk kumpul dengan keluarga,”katanya.

Profesi sebagai peneliti didukung oleh keluarga, terutama sang istri yang
berprofesi sebagai Pegawai Negeri Sipil(PNS) tenaga pendidik.

“Meskipun kadang saya harus menginap. Mereka(keluarga-red) tetap dukung saya. Kata mereka, profesi saya menentukan keberlangsungan mahluk hidup kedepannya, termasuk kita manusia,”ungkap ari.

Di akhir wawancara, Ari mengajak seluruh elemen masyarakat di Indonesia khususnya Kalteng untuk melestarikan lingkungan sekitar.

“Oksigen sumbernya Tumbuhan di Hutan. kalau kita ingin berumur panjang, jagalah lingkungan sekitar”tutupnya

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.