CIMTROP Berpatisipasi Menanggulang Bencana Kebakaran

Relawan dan aktivis dari Greenpeace, Save Our Borneo, dan UPT Center for International Cooperation in Sustainable Management of Tropical Peatland (CIMTROP) Universitas Palangkaraya sedang menyelesaikan kerangka dam atau blocking canal di Desa Paduran Sebangau, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah, Rabu (2/12). Dam sepanjang 27 meter dengan lebar 4 meter itu dibangun dengan 1.300 batang kayu galam dan menelan biaya hingga Rp 50 juta. Dam dua tingkat ini mempertahankan tinggi muka air hingga 2,9 meter dan bisa membasahi sekitar 400-500 meter lahan gambut di samping kiri dan kanannya untuk mencegah kebakaran. Kompas/Megandika Wicaksono (DKA) 02-12-2015

Tim Serbu Asap, sekat canal (dam) hingga Laboratorium Alam Hutan Gambut(LAHG). Pusat Kerja sama Internasional dalam tata kelola berkelanjutan Lahan Gambut Tropis, Universitas Palangka Raya atau yang di sebut dengan CIMTROP menunjukan eksistensinya menstaeritaebilitaskan ekosistem alam. Melalui proyeknya tersebut, secara tidak langsung CIMTROP telah berpartisipasi menanggulangi Bencana Kebakaran.

Mereka melihat potensi kebakaran sangat tinggi di Pulau Kalimantan, terutama pada lahan-lahan gambut. Sementara untuk Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) sendiri memiliki lahan gambut mencapai 2,6 juta hektar dari 4,6 juta hektar lahan gambut di pulau Kalimantan, atau nomor dua terluas setelah Provinsi Riau mencapai 3,8 juta hektar.

Manfaat positif yang dilakukan CIMTROP terasa setelah tahun 2015 kemarin Pulau Kalimantan di landa bencana alam kebakaran skala Nasional. Sebelumnya dampak kebakaran melumpuhkan segala aktifitas masyarakat pulau kalimantan, hingga menganggu kenyamanan Negara Tetangga seperti Malaysia. Lalu Kebakaran serupa di Provinsi Riau, juga menganggu kenyamanan Negara Singapore.

Selain itu, dampak dari kebakaran kawasan hutan pulau kalimantan juga telah memporaporandakan habitat flora maupun fauna yang ada di seputar kawasan hutan gambut. Diantaranya Orang utan, seperti yang dilansir organisasi nirlaba penyelamat orang utan Borneo Orang utan Survival Foundation (BOSF) tahun 2008, sedikitnya ada 58.000 orang utan yang menghuni hutan Kalimatan.

Guna mengatasi bencana alam kebakaran di pulau kalimantan, ke tiga item proyek CIMTROP yang sudah berjalan hingga saat ini dinilai sangat efektif. Pertama proyek LAHG, di tempat ini peneliti bisa memantau pertumbuhan ekosistem hutan kalimantan. Selain itu, melalui uji cobanya, mereka bisa menemukan formula-formula yang bermanfaat dalam pertumbuhan ekosistem alam.

“Seperti yang sudah ada, LAHG menemukan manfaat ekonomis bagi masyarakat setempat dengan memanfaatkan lahan gambut untuk persawahan. Jenis gambut yang cocok, yakni gambut tipis yang sepenuhnya dapat dialiri oleh air dari mekanisme pasang surut dan lapisan tanah di bawah gambut,” katanya.

“Implementasinya, LAHG terus mendorong kegiatan tersebut, hingga sekarang menanam padi di lahan gambut tipis menjadi kearifan lokal masyarakat setempat,” tambahnya.

Proyek Keduanya, mengenai Dam. Disini CIMTROP mendapati bahwa salah satu penyebab lahan gambut di kalimantan tengah mudah kering saat memasuki musim kemarau, yakni adanya program persawahan Pemerintah RI di Kalteng membuat metode sekat Garpu atau sisir untuk mengaliri air ke areal persawahan.

“Hal tersebut tidak efektif, karena air dengan metode garpu atau sisir justru akan membuang air ke daratan rendah atau sungai-sungai. Saat terjadi penyurutan sungai, maka air tersebut tidak bisa masuk lagi ke area gambut. Pada akhirnya gambut jadi kering, lalu rentan terjadi kebakaran,” ulasnya. Mengubah hal itu, CIMTROP bersama penelitinya berupaya menciptakan sekat canal (Dam). Metode ini sangat efektif, karena air tidak cepat kering saat memasuki musim kemarau. Disini air akan mengendap di dalam sekat-sekat canal membentuk kolam atau danau-danau kecil. “Kalau gambut di Kalteng terus basah, apipun tidak akan mudah melebarkan keganasannya. Kemudian saat skala kebakaran sudah tinggi, pihak berwenangpun dengan mudahnya menemukan sumber mata air pada area sekitar kebakaran,”

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.