CIMTROP : Metode Ini Efektif Tanggulangi Kebakaran Lahan

Bencana kabut asap yang timbul karena adanya kebakaran hutan dan lahan nampaknya akan selalu menghantui wilayah di Indonesia, tak terkecuali Kalteng.

Bahkan dampak kabut asap saat ini sudah memasuki ambang sangat berbahaya. Menurut pimpinan Centre for International Co-Operation In Sustainable Management of Tropical Peatland (CIMTROP) Universitas Palangka Raya Dr. Ir. Suwido H. Limin MS, pengaruh kabut asap secara global akan sangat besar sebab konsentrasi oksigen yang dibutuhkan oleh manusia saat ini sangat sedikit.

“Untuk jangka panjangnyapun warga Kalteng kemungkinan mengalami penyakit massal seperti penyakit asma,kanker bahkan bisa lebih parah dari itu lagi jika kondisi bencana kabut asap terjadi terus menerus setiap tahun,” tutur Suwido saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (28/9/2015) lalu.

Diuraikannya, kebakaran paling parah dan terjadi secara berulang di wilayah Kalteng dimulai sejak tahun 1997 hingga tahun 2015 (lihat table, red). Bencana kebakaran ini ujarnya, akan tetap terjadi setiap tahun jika musim kemarau terjadi selama tiga bulan berturut-turut setiap tahunnya.

“Kalau menurut El Nino siklus kebakaran itu setiap 4-5 tahun sekali. Sebetulnya itu tergantung dengan jangka musim kemaraunya, jika musim kemarau terjadi selama tiga bulan maka besar kemungkinan kebakaran akan tetap terjadi,” paparnya.

Suwido mengaku, saat ini dia bersama timnya tengah merencanakan suatu metode baru dalam upaya mencegah kebakaran hutan dan lahan, metode yang dianggap lebih efektif dibandingkan water boombing dan hujan buatan seperti yang dilakukan pemerintah saat ini.

Kita harus tinggalkan pola lama yang jelas-jelas tetap tidak efektif dalam mengatasi kebakaran. Kami akan menawarkan metode preventif dengan mengandalkan sumberdaya manusia atau masyarakat setempat yang berada disekitar lahan atau hutan yang rawan kebakaran,” jelas Suwido.

Sejak awal kemarau atau bahkan lebih awal sebelum kemarau, harus sudah meletakkan posisi masing-masing orang pada setiap titik seperti  pinggir jalan utama hingga tengah hutan yang rawan dengan kebakaran dan itu harus dikontrol setiap waktu, siang dan malam. Dan orang yang bertugas tersebut sistemnya dikontrak, dengan catatan wilayah yang menjadi tanggung jawabnya tidak boleh ada terjadi kebakaran jika tidak maka kontrak akan dibatalkan. Untuk jatah lahan yang dijaga adalah satu kilometer per orang.

Namun metode preventif tersebut harus pula disertai dengan hukum yang tegas, sebab orang-orang yang bertugas menjaga hutan tersebut tidak hanya menawasi saja tapi juga menangkap pelaku pembakaran jika menemukan. maka dari itu peran hukum disini sangat dibutuhkan guna membuat efek jera bila tertangkap.

“Dari pada mengeluarkan dana yang sangat besar untuk mendatangkan pesawat pembuat hujan buatan yang nyatanya tidak efektif, lebih baik digunakan untuk membayar masyarakat yang terlibat dalam penjagaan lahan itu kan,” ucapnya.

Dirinya menjelaskan dengan yakin dan optimis bahwa metode yang dijabarkan tadi akan efektif. Dan rencananya akan dia usulkan kepada pihak Pemerintah Provinsi kalteng.

“Saya sudah melihat bagaimana tanggung jawab masyarakat bila kita ikut sertakan dalam upaya mengurangi pembakaran lahan. Ini juga bisa membuat peluang kerja bagi masyarakat asli Kalteng,” imbuhnya.

Djelaskannya lagi, sekitar 3 juta atau 2/3 luas wilayah Kalteng merupakan sebaran lahan gambut dan itu terletak pada bagian Selatan, salah satunya adalah Kabupaten Pulang Pisau. Sementara, ke dalaman gambut tersebut sekitar 17 meter. “Kami masih belum melakukan penelitian secara mendetail terkait luas dan berapa kedalaman lahan gambut di Kalteng ini,” ujarnya.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.