Seminar Nasional HARMONISASI PEMANFAATAN DAN KONSERVASI GAMBUT INDONESIA MELALUI PENGELOLAAN LAHAN SECARA BERTANGGUNG JAWAB Palangka Raya, INDONESIA 6-8 September 2017

A. Pendahuluan
Kebutuhan akan lahan untuk berbagai penggunaan termasuk pertanian di Indonesia sangat tinggi. Di sisi lain ketersediaan lahan produktif untuk pengembangan pertanian semakin terbatas, yang menyebabkan pemanfaatan sub-optimal seperti lahan gambut menjadi alternatif untuk pengembangan pertanian termasuk untuk perkebunan dan hutan tanaman industri. Namun demikian, dalam dekade terakhir ini, pembukaan lahan gambut menjadi perhatian besar masyarakat dunia karena dianggap merusak lingkungan. Konversi lahan gambut yang ditutupi tanaman hutan ke penggunaan lain telah menjadi kekhawatiran sebagian para ahli lingkungan karena dapat menyebabkan emisi karbon (C) dalam bentuk CO2 yang sangat besar, walaupun emisi tersebut akan menurun kembali hingga pada tingkat yang stabil seiring dengan semakin resistennya gambut dari faktor-faktor penyebab dekomposisi bahan organiknya.
Lahan gambut bagi masyarakat Indonesia memiliki nilai yang sangat penting karena menyediakan hasil hutan berupa kayu dan non kayu, menyimpan dan mensuplai air, menyimpan C, dan merupakan habitat bagi keanekaragaman hayati dengan berbagai jenis flora dan fauna langka. Di sisi lain, sejalan dengan meningkatnya pertambahan penduduk dan keterbatasan ketersediaan lahan untuk pengembangan berbagai sektor, seperti pertanian, perkebunan dan kehutanan, serta untuk pemukiman penduduk dan infrastruktur lainnya, menyebabkan pilihan pengembangan lahan sebagian menjadi diarahkan pada lahan gambut.
Di Asia Tenggara, lahan gambut mencakup lebih dari 26 juta hektar (69% dari semua lahan gambut tropis), pada ketinggian sekitar 50 m di atas permukaan laut, sebagian besar di dekat pantai Sumatera, Kalimantan, Papua Barat, Papua Nugini, Brunei, Semenanjung Malaysia, Sabah, Sarawak dan Thailand (Page et al., 2004; Wosten et al., 2008). Dari jumlah tersebut, ada sekitar 6 juta hektar lahan gambut di Kalimantan (RePPProT, 1990; Radjagukguk, 1992) dengan ketebalan bervariasi dari 0,3 m sampai 20 m (Anderson, 1983).
Pada kenyataannya perkembangan penggunaan lahan gambutuntuk kegiatan usaha pertanian telah terjadi semenjak beberapa dekade terakhir,yang sampai dengan saat ini masih terus berlangsung. Menurut Badan Litbang Kementan (2013), hingga tahun 2012 paling sedikit sudah4 juta hektar lahan hutan gambutyang telah dikonversi menjadi areal pertanian, dan sekitar 4 juta hektar di dalam keadaan rusak ditinjau dari aspek komposisi vegetasi maupun tata airnya. Hanya 6 – 7 juta hektar (atau sekitar 40%)masih tersisa sebagai hutan alamiyang tersebar di Sumatera, Kalimantan dan Papua.
Oleh karena itu, ke depan, pemanfaatan lahan gambut perlu penanganan secara khusus sehingga diperoleh keseimbangan antara konservasi dan pengembangan atau pemanfaatan. Kunci keberlanjutan dalam pemanfaatan gambut adalah pengelolaan lahannya harus dilakukan secara bertanggungjawab melalui upaya-upaya berikut: (i) menekan penurunan fungsi lingkungan sebagai penyimpan C, (ii) mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK) terutama (CO2), (iii) mempertahankan ketersediaan air agar dapat memenuhi persyaratan untuk meningkatkan stabilitas gambut dan pertumbuhan tanaman yang diusahakan, dan (iv) menerapkan teknologi baru yang dihasilkan dalam upaya peningkatan produksi tanaman. Diyakini bahwa banyak penelitian-penelitian“baru”yang telah dihasilkan para peneliti dari perguruan tinggi dan lembaga-lembaga penelitian, yang dapat digunakan untukmelakukan upaya-upaya seperti tersebut di atas, namun barangkali masih perlu didiskusikan terlebih dahulu dalam suatu forum ilmiahsehingga dapat lebihmemperkaya bidang ilmunya.Untuk itu, Perkumpulan Masyarakat Gambut Indonesia (HGI) bekerja-sama dengan Universitas Palangka Raya (UPR) akan menyelenggarakan pertemuan ilmiah dalam bentuk Seminar Nasional yang bertemakan: HARMONISASI PEMANFAATAN DAN KONSERVASI GAMBUT INDONESIA MELALUI PENGELOLAAN LAHAN YANG BERTANGGUNGJAWAB pada tanggal 23-25 Agustus 2017 di Palangka Raya.
B. Tujuan
(1) Mensintesiskan pengetahuan dan pengalaman masa lalu, kecendrungan sekarang dan masa depan yang berkaitan dengan permasalahan yang dihadapi dalam pengelolaan lahan gambut.
(2) Memberikan: (i) informasi tentang kemungkinan dampak dari mis-manajemen lahan gambut terhadap perubahan iklim, serta (ii) pedoman bagi pemangku kepentingan di bidang perencanaan dan pelaksanaan untuk pemanfaatan lahan gambut secara bertanggungjawab.
(3) Menyusun roadmapdalam rangkapenyusunan visi dan misi pengelolaan lahan gambut di Indonesia terutama yang terkait dengan pembangunan kapasitas SDM, networking dan kelembagaan.

C. Materi Seminar Nasional
(1) Pembicara Kunci: sebagai pembicara adalah Pejabat Pemerintah – menyampaikan Arah Kebijakan Pengelolaan Lahan Gambut di Indonesia
(2) Pembicara pada Sesi Plenary – sebagai pembicara adalah Praktisi dan Peneliti Senior – menyampaikan isu-isu penting terkait permasalahan dalam Pengelolaan Lahan Gambut di Indonesia.
(3) Pembicara Utama: sebagai pembicara adalah Peneliti Senior – menyampaikan aspek Keilmuan Gambut dalam rangka mengimplementasikan Harmonisasi Pemanfaatan dan Konservasi Gambut melalui Pengelolaan Lahan yang Bertanggungjawab.
(4) Sidang Komisi: secara umumakan dibagi menjadi 3 (tiga) Komisi, sbb:
(1) Komisi Pemanfaatan Lahan Gambut dan Permasalahannya,
(2) Komisi Konservasi Lahan Gambut dan Permasalahannya, dan
(3) Komisi Jejaring Peneliti dan Road Map Penelitian Gambut di Indonesia
(5) Poster
Tanggal Penting

D. Lokasi
Seminar Nasional ini akan dilaksanakan di Hotel Luwansa,
Jl. G.Obos No.102, Palangka Raya 73111
Kalimantan Tengah, Indonesia

E. Petunjuk untuk Abstrak
1. Ukuran kertas: maksimal 1 halaman(lembar A4, 210×297mm).
2. Tipe dan ukuran huruf: Times New Roman (ukuran 12 danspasi 1).
3. Margins: 2.5 cm pada semua sisi.
4. Judul:Times New Roman (ukuran 14 dan spasi 1).
5. Nama Penulis:berada di bawah judul, dilengkapi dengan alamat post dan e-mail.

F. Instruksi untuk Presentasi Poster
1. Ukuran panel: 90 x 120 cm danukuran poster: lembar A0 (83.0 x 115.4 cm).
2. Poster harus dipasang sendiri oleh peserta pada tanggal 23 Agustus 2017 (pagi). Berbagai perekat dan pin akan disediakan di meja panitia.
3. Poster akan dipamerkan di area poster selama dua hari dan akan terbuka untuk semua peserta seminar selama jam pameran (waktu inti untuk presentasi poster adalah pada tanggal 23 Agustus 2017 setelah makan siang).
4. Silakan menyiapkan presentasi singkat selama 5 menit dengan menggunakan PPT. Kami akan meminta Anda untuk menyajikan hasil penelitian Anda dalam poster tersebut ketika Anda mendapatkan penghargaan sebagai Poster Terbaik.

G. Biaya Pendaftaran
1. Pemakalah (oral/poster)
Mhs. S1 : Rp. 150.000,-
Mhs. S2/S3 : Rp. 200.000,-
Umum : Rp. 350.000,-
Anggota HGI : Rp. 300.000,-
2. Peserta Seminar Nasional
S1 : Rp. 50.000,-
S2/S3 : Rp. 100.000,-
Umum : Rp. 200.000,-
Anggota HGI : Rp. 150.000,-

H. Alamat Kontak
 Dr. Ir. Ici P. Kulu, M.P. (UPR)
Email: ici_kulu@cimtrop.upr.ac.id
Mobile:+62-852-4918-9059
 Drs. Tampung N. Saman, M.Sc. (UPR)
Email: tampung@cimtrop.upr.ac.id
Mobile:+62-878-1790-5509
 Kitso Kusin, SP., M.Si. (UPR)
E-mail: kitso@cimtrop.upr.ac.id
Mobile: +62-813-4900-8773