Implementasi Perluasan dan Evaluasi Sekat Kanal (Proyek Kerjasama BRG dan CIMTROP UPR)

 

Latar Belakang

Sistem saluran drainase atau kanal pada lahan gambut cenderung untuk mengeluarkan atau melepaskan air, sehingga lahan gambut menjadi kering, mudah teroksidasi dan melepaskan carbon dalam jumlah yang besar, akan mengalami penurunan (subsidence) dan sangat rentan untuk terbakar.

Untuk mengurangi kehilangan air dari lahan gambut dan untuk menaikan kondisi muka air tanah serta mempertahankan kondisi lembab gambut, maka kanal kanal yang ada perlu di sekat dengan menggunakan sekat kanal (sekat kanal), sehingga pelepasan carbon, subsidence dan kebakaran lahan dapat diminimalisir.

Kawasan gambut tropika khususnya di Kalimantan Tengah, cukup banyak yang mengalami degradasi oleh berbagai sebab diantaranya adalah akibat kebakaran hutan dan lahan rawa gambut. Peraturan pemerintah (PP) Nomor 71 tahun 2014 dan peraturan perubahannya PP Nomor 57 tahun 2016 tentang perlindungan dan pengelolaan ekosistem gambut, menjadi dasar utama pelaksanaan kegiatan yang berkaitan dengan ekosistem gambut, termasuk kegiatan restorasi gambut yang rusak.

Secara umum pendekatan terpadu (terintegrasi) harus dilakukan untuk konservasi dan restorasi lahan gambut terdegradasi sebagaimana menjadi program Badan Restorasi Gambut (BRG) yaitu 3R dengan mencakup aspek: restorasi hidrologi (re-wetting) dan re-vegetasi serta pemberdayaan ekonomi masyarakat (revitalisasi livelihood). Restorasi Hidrologi bertujuan untuk memberi kesempatan pada lahan gambut untuk dibasahkan kembali sehingga peluang untuk terjadinya kebakaran hutan menjadi kecil, selain juga dapat memberikan kondisi tanah yang baik bagi pertumbuhan vegetasi. Lahan – lahan gambut di Kalimantan Tengah telah banyak dibuka dengan membuat saluran drainase dan mengakibatkan pengeringan lahan gambut dengan resiko kebakaran hutan dan lahan menjadi semakin besar. Karena itu restorasi hidrologi bersama dengan revegetasi diharapkan memperbaiki kondisi lahan gambut dan mengurangi resiko kebakaran hutan dan lahan tersebut. Restorasi hidrologi dilakukan dengan membangun sekat kanal pada saluran – saluran drainase tersebut. Restorasi hidrologi juga dapat berpengaruh terhadap laju dekomposisi gambut dan emisi carbon yang dapat memberikan sumbangsih terhadap perubahan iklim. Pendekatan rewetting ini juga seharusnya dapat dilakukan bersamaan dengan upaya peningkatan pendapatan masyarakat (revitalisasi) dengan memanfaatkan wilayah perairan yang terbentuk dari pembangunan sekat kanal.